Boleh dibilang versi panjang serial 24 ini adalah pemanasan sebelum kita menyaksikan versi layar lebarnya yang kabarnya akan segera dibuat. Mengambil setting cerita diantara akhir season 6 dan awal season 7, membuat kita yang tidak atau bukan pengikut serial ini sedikit kebingungan mengikuti ceritanya, tapi jangan khawatir karena sebenarnya cerita 24 Redemption boleh dibilang berdiri sendiri.
Sebagai sebuah tontonan mengasyikkan, nampaknya 24 Redemption ini memang diperuntukan bagi Anda para penggemar serial tevenya, tetapi bagi Anda yang bukan penggemar pun, kehadiran versi episode panjang dari serial teve ini cukup menarik, apalagi cerita yang dihadirkan sedikit mengkritik politik kotor di negara adidaya AS yang bisa jadi terjadi pula di pemerintahan negara lain termasuk negara kita sendiri.
Salah satu serial televisi yang dapat mencapai season 7 atau lebih, belum banyak. Dan salah satunya adalah serial 24 yang dimotori oleh Kiefer Sutherland. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah serial bisa bertahan selama itu. Contohnya : rangkaian cerita yang memikat atau ciri khas yang tidak dimiliki oleh serial lain. 24 patut diakui mempunyai suatu ciri khas yang sesuai dengan judulnya 24 hours. Semua kejadian terjadi dalam satu hari atau tepatnya 24 jam. Ditambah jalinan cerita yang ‘diusahakan’ tegang setiap saat dan kejutan-kejutan yang tidak disangka.
Diceritakan bahwa Jack Bauer (Kiefer Sutherland) sedang bersembunyi di Sangala, Afrika. Di sebuah sekolah Amerika yang dikelola oleh temannya, Carl Benton (Robert Carlyle). Tapi Jack tetap dikejar oleh Frank Trammell (Gil Bellows) karena Jack diberi surat untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya yang dulu waktu di CTU.


Meski sekian lama menjadi bagian dari masa Pemerintahan Soeharto dan menganggap Soeharto adalah guru sekaligus bapaknya, gaya kepemimpinan Habibie jauh bertolak belakang dengan orang yang dihormatinya itu. Muladi, mantan Menteri Kehakiman di era Orde Baru, menuturkan, sidang kabinet yang dipimpin Soeharto selalu berlangsung dalam suasana mencekam. Para menteri takut angkat tangan mengajukan diri untuk bicara. Sementara itu, di zaman Habibie, para menteri justru berebut mengacungkan jari. Muladi menggambarkan, susana sidang kabinet seperti sebuah seminar: riuh, panas, kadang gebrak-gebrak meja seperti mau berkelahi.
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Presiden Indonesia keempat. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999-23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri. Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia, sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
MEGAWATI Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno “Silence is Gold”. Namun, diamnya Megawati sering kali kelewatan. Ia tetap tak bersuara, bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (alm) Roeslam Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, “Megawati bicaralah sebagai Presiden!”
Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri Negera Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Asia. Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para anggota rombongan pun kelelahan luar biasa. Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea. Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya, karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur tertidur. 

