Workaholic

workaholicJam kerja seseorang umumnya berkisar antara 8 hingga 9 jam perhari, tapi terkadang waktunya akan lebih panjang bila tengah banyak kerjaan atau dikejar tenggat. Kelebihan waktu  kerja atau lembur, biasanya tidak terlalu sering terjadi. Tapi pada beberapa orang, waktu kerja terkesan tak ada batasannya. Bahkan, banyak pula yang membawa tugasnya ke rumah. Orang-orang yang kerap melakukan ini, kemungkinan besar mengidap penyakit ‘gila kerja’ (workaholic).

Secara definitif, gila kerja sangat berbeda dengan pekerja keras (hard worker). Seorang pekerja keras, umumnya sangat menyadari pentingnya pekerjaan demi kebutuhan hidup, sehingga rajin dan menghargai waktunya di tempat kerja. Sedangkan seorang yang sudah gila kerja, lebih tepat dibilang ketagihan bekerja karena lebih menikmati hidup bila tenggelam dalam pekerjaan. Pegawai di Jepang merupakan contoh ekstrimnya, karena mereka menghabiskan sekitar 12 jam setiap hari atau lebih dari 40 jam seminggu dengan bekerja di kantor .

Belakangan gejala gila kerja tak hanya menghinggapi warga Jepang, tapi juga di sejumlah kota-kota besar dunia, termasuk Jakarta. Beban hidup yang makin berat, membuat seseorang tanpa sadar dituntut untuk terus bekerja keras setiap harinya. Pada akhirnya, mereka tak lagi bekerja untuk hidup tapi hidup untuk bekerja. Padahal, hidup yang berkualitas adalah kehidupan yang seimbang. Berikut ini beberapa gejala ‘gila kerja’ dan bagaimana yang sebaiknya Anda lakukan:

1. Setiap hari pulang terlambat

Ritme kerja yang berlebihan, keinginan untuk terus menerus menuntaskan pekerjaan lebih dari apa yang ditugaskan, serta selalu memiliki rencana kerja yang jauh lebih banyak dari jadwal kerja yang ada, merupakan faktor penyebabnya. Seorang workaholic biasanya lebih senang tinggal di kantor sampai larut malam, meski hanya browsing atau menikmati segelas cappuccino.

Solusi:
– Bila Anda sudah mulai datang paling awal, pulang paling larut, sebaiknya segera tetapkan jam pulang yang sama setiap hari. Berjanjilah pada diri sendiri, untuk pulang pada waktunya.
– Cara lainnya, cari teman yang pulangnya satu arah. Selain perjalanan menjadi tak membosankan, hubungan dengan rekan kerja pun jadi lebih baik.

2. Tak bisa bersosialisasi

Orang yang gila kerja, cenderung memiliki keterbatasan dalam kehidupan sosialnya, sehingga jauh dari kesan ‘asyik’ saat berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, seorang yang gila kerja umumnya berbicara dengan gaya serius, bahkan di saat santai sekalipun! Baginya, pembicaraan yang sifatnya santau atau ‘intermezo’, dianggap tidak bermutu dan buang-buang waktu. Satu-satunya yang menjadi hiburan adalah menonton TV sebelum tidur. Jadi, saat mulai sering menolak ajakan jalan atau makan-makan oleh teman Anda, waspadalah! Hidup penuh kesepian, adalah hal yang paling menyedihkan. Jangan ragu untuk bersenang-senang dengan keluarga atau teman, sedikitnya seminggu sekali.

Solusi:
Hindari terlalu sering membatalkan janji di detik-detik terakhir, percayalah bahwa kegiatan di luar kerja akan membuat rasa lelah hilang dan pikiran kembali jernih.

3. Selalu berbicara tentang pekerjaan

Orang-orang yang gila kerja, sering terlihat membawa-bawa kertas dan pekerjaannya, meskipun saat sedang makan. Meski mulut penuh makanan, namun tangannya tetap sibuk menyelesaikan tugasnya. Di luar urusan pekerjaan, ia tak tertarik dan pergi untuk memikirkan agenda kerja esok hari.

Solusi:
Ketika di luar kantor, hindari membicarakan pekerjaan. Cari topik lain yang menarik untuk dibicarakan, baik lewat telepon hanya untuk menanyakan kabar. Sadari bahwa membicarakan pekerjaan hanya akan menguras energi dan memicu rasa lelah, beristirahatlah.

4. Kesulitan tidur di malam hari

Ketika pulang ke rumah seseorang yang gila kerja akan membawa pulang pekerjaannya, bahkan hingga ke tempat tidur!  Hingga waktu istirahat pun, pikirannya selalu dipenuhi tugas-tugas kantor.

Solusi:

Saat pulang kerja carilah aktivitas lain yang menyenangkan, misalnya sekedar bersantai di kafe, menonton film, atau alternatif lainnya. Kegiatan ini akan membantu menenangkan pikiran Anda, setelah bekerja seharian. Bila ingin langsung pulang, jangan bawa pekerjaan, biarkan di kantor dan istirahatlah di rumah.

5. Hubungan keluarga memburuk

Ini adalah efek terburuk karena Anda akan mulai berpikir bahwa bersantai dengan keluarga, adalah kegiatan membuang-buang waktu. Meski bekerja keras menghasilkan banyak uang dan membuat keluarga bahagia, tapi kenyataannya tidaklah begitu.

Solusi:
Berikan satu hari dalam seminggu yang didedikasikan untuk keluarga dan teman, gunakanlah untuk berjalan-jalan atau sekedar ngobrol bersama. Saat berkumpul bersama, lakukan dengan santai dan rileks. Pergilah berlibur ke tempat-tempat yang menyenangkan keluarga Anda. Bila gejala-gejala di atas mulai melanda Anda, segera rubah ritme kerja Anda. Kembalilah ke rutinitas kerja yang normal, karena segala sesuatu yang berlebihan tidak baik efeknya.

Sekeras apapun, menjalani kehidupan dengan cara menikmatinya jauh lebih indah daripada terus membebani pikiran dengan berbagai urusan pekerjaan. Saat liburan, jauhi segala macam benda kerja seperti agenda, ponsel dan notebook. Inilah saatnya untuk melakukan hal lain, selain bekerja!

source from : halohalo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: