Memberi hadiah dihari istimewa

To be kind to all, to like many and love a few, to be needed and wanted by those we love, is certainly the nearest we can come to happiness“.

Bersikap baik kepada semua orang, menyukai banyak orang dan mencintai sebagian kecil diantara mereka, dibutuhkan dan diinginkan oleh orang-orang yang kita cintai, sungguh merupakan posisi yang paling dekat untuk berada dalam kebahagiaan.”Mary Roberts Rinehart

Hari yang istimewa bagi seseorang misalnya hari ulang tahun, hari perjumpaan, hari bapak, hari ibu, dan lain sebagainya. Pada hari-hari yang dianggap istimewa tersebut merupakan kesempatan yang paling tepat untuk mengungkapkan penghargaan kepada orang-orang yang teristimewa dalam kehidupan kita. Lewat pemberian hadiah, kita juga bisa mengungkapkan cinta kasih.

Sebuah hadiah istimewa tidak harus selalu mahal, melainkan mengandung sesuatu yang khusus. Meskipun hadiah itu sifatnya sederhana, tetapi bila disampaikan dengan cara yang lebih kreatif maka akan terasa lebih spesial atau menjadi sesuatu yang unik dan tak mudah dilupakan si penerima. Begitu terkesannya, sampai-sampai sang penerima tak pernah bosan mengingat kebahagiaan yang berasal dari pemberian hadiah spesial kita.

Lalu hadiahnya apa dong..

What i’ve learn after break up

Cinta memang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Paling tidak, cinta mewarnai dunia yang dirundung semakin banyak perang ini. Namun cinta tidak selalu berwarna segar, ceria, dan menggelora. Karena lewat cinta, warna-warna sendu juga bisa muncul. Terutama kalau sehabis diputus oleh pasangan. Sebenarnya, akhir kisah cinta tidak selalu menyedihkan. Tapi, supaya tulisan ini lebih melankolis, tulisan ini akan khusus bicara soal hikmah dari kisah cinta yang dialami seorang teman dan berakhir duka. Lagi pula, biasanya no pain, no gain, ‘kan? 😀

Tidak gampang memang menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Terutama bila berhubungan dengan orang yang kita sayangi. Hanya segelintir saja yang tahu bahwa sebenarnya kita, para pria, bisa sangat melankolis dalam hal yang satu ini. Bahkan, terkadang proses yang kita jalani untuk hadapi kenyataan pahit ini tidak ada bedanya dengan Anda.

The We are OK, Im fine

Kami baik-baik aja, kok. Komentar seperti ini (atau yang mirip-mirip) sering sekali keluar. Ada keinginan dari hati yang paling dalam untuk tetap menjalani aktivitas seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah, seperti tidak ada masalah. Masih berkirim SMS walaupun sudah tidak pernah dapat balasan atau malah sudah di black list. Masih mengikuti jadwal menjemput di kampus atau di kantor seperti biasa. Pokoknya, benar-benar seperti tidak ada perubahan.
Ada juga yang berpikir begini: Tenang saja. Keadaannya masih aman dan terkendali atau Biasa, deh. Lagi ngambek musiman. Nanti juga baikan lagi. Mungkin karena saking seringnya si wanita mengucapkan kata putus, si pria akan merasa proses ini seperti siklus yang nantinya akan kembali normal. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah We are not OK and I am F.I.N.E (Frustrated Insecure Neurotic Emotional).
Betul sekali. Inilah tahap penyangkalan atau enggan menerima kenyataan. Bisa jadi karena akal dan hati tak lagi nyambung. Kenyataannya sudah putus, tapi hati masih belum mau terima. Biasanya, bila tahap denial ini makan waktu terlalu lama, bakal ada negative excess terhadap berat badan dan kesehatan, atau perilaku.

Next Phase is..